Sony Music Indonesia makin melebarkan sayap. Ladang
rock menjadi pasaran utama yang dibidik. Setelah /rif, Edane, Boomerang
dan Rebek, kini salah satu perusahaan rekaman besar di Tanah Air ini
menggaet rombongan pengusung punk rock asal Bali, Superman Is Dead
(SID).
Maret 2003, mereka menandatangani kontrak
rekaman dengan Sony. Dan dalam waktu yang cukup singkat, tepatnya awal
Mei lalu, album SID yang berjudul Kuta Rock City sudah dirilis dengan
menyodorkan materi lagu yang liriknya 70% berbahasa Inggris.
Siapa
SID dan apa keisitimewaan mereka? Untuk kalangan underground, SID bukan
lagi nama yang asing. Di Kuta, Bali, tempat mereka memulai semuanya,
SID merupakan band lokal yang mampu mendominasi selera bule-bule (baca:
turis mancanegara). Mereka bisa manggung di kafe dan pub dengan
mengusung lagu-lagu sendiri.
Selanjutnya, popularitas SID seolah
berjalan di atas tol. Bebas hambatan. Lagu-lagu ciptaan mereka yang
berkumandang di radio-radio lokal dengan cepat menyebar. Tidak cuma di
Bali. Tapi menjalar hingga ke Jawa dan bahkan juga gencar diperdengarkan
di radio-radio di Australia, Jepang, Swedia dan Skandinavia.
Tapi,
langkah fenomenal SID bisa dibilang berawal pada Agustus 2002 lalu.
Saat itu, mereka mendapat kehormatan menjadi band pembuka konser grup
rock asal Amerika, Hoobastank di Hard Rock Hotel, Kuta, Bali. Sejak itu,
nama SID terngiang di mana-mana. Orderan manggung laris dan wajah
mereka lantas banyak menghiasi halaman majalah remaja.
SID
mengawali karirnya sekitar tahun 1995. Bobby Cool (vokal, gitar), Eka
Rock (bas, vokal latar) dan Jerinx (dram), sejak awal, langsung mematok
musik SID di jalur punk, yang banyak dipengaruhi band-band macam
Greenday hingga NOFX. Seiring beringsutnya waktu, inspirasi musikal SID
bergeser ke genre punk ‘n roll ala Supersuckers, Living End dan Social
Distortion.
Nama Superman Is Dead sendiri mencuat setelah mereka
mendengar lagu milik Stone Temple Pilot yang bertitel Superman
Silvergun. Namun karena dianggap miskin konotasi, mereka pun mengubahnya
menjadi Superman Is Dead. Yang dengan seenaknya diartikan: tak ada
manusia yang sempurna.
Dengan konsep punk frontal yang
menonjolkan 3-Chordsabilly Punk Rock. Atau arti yang lebih sederhana:
tiga jurus khas punk rock, SID lantas memulai menjual lagu sendiri lewat
jalur rekaman independen. Untuk wilayah Bali, SID merilis tiga album
indie berformat mini album, yakni Case 15 (1995), Superman Is Dead
(1999) dan Bad Bad Bad (Maret 2002).
Selanjutnya, untuk
melebarkan sayap, SID bekerjasama dengan Spills Records, sebuah label
independen asal Bandung, pada awal 2003 lalu. Label ini kemudian merilis
ulang Bad Bad Bad dalam bentuk kaset single yang hanya memuat empat
lagu. (aug/*)
`---Taken from MusikMu.com----
Tidak ada komentar:
Posting Komentar